Dari Rp 230.624 Sampai Rp 2.306.024: Bikin Nominal Mahar Nyangkut di Tanggal Akadmu
Tanggal Akad Sudah Fix — Tapi Nominal Maharnya Masih Tanda Tanya?
Sudah nemu tanggal akadnya, tapi nominal maharnya masih kamu utak-atik? Ada yang bilang harus angka "yang bagus", ada yang bilang ikut kemampuan aja, ada juga yang sibuk nyari angka unik biar gampang diingat. Wajar banget kalau bagian ini bikin bingung — mahar atau mas kawin adalah pemberian wajib dari calon suami kepada calon istri, jadi wajar kalau kamu pengen nominalnya bermakna dan nggak asal jadi.
Salah satu cara yang banyak dipilih belakangan: menyusun nominal mahar langsung dari angka tanggal pernikahan. Idennya sederhana, hasilnya jadi angka yang spesial buat kamu berdua, dan gampang diingat seumur hidup. Berikut cara menghitungnya, makna di balik tren ini, dan beberapa hal yang sering bikin pasangan keliru.
Dua Cara Menyusun Nominal dari Tanggal Pernikahan
Konsepnya begini: kamu ambil angka tanggal, bulan, dan tahun akad, lalu menyusunnya jadi satu deret angka yang dibaca sebagai nominal uang. Terserah mau skala ratusan ribu atau jutaan — yang membedakan cuma di mana kamu meletakkan kedudukan angkanya.
Skala Ratusan Ribu — Rp 230.624
Misal, akad di 23 Juni 2024. Ditulis jadi deret angka: 23.06.2024. Kalau kamu coret angka "20" di depan tahun dan cukup ambil "24", kamu dapat 230.624 — dibaca dua ratus tiga puluh ribu enam ratus dua puluh empat rupiah.
Skala Jutaan — Rp 2.306.024
Pakai tanggal yang sama, kali ini geser kedudukan angkanya ke jutaan: ambil angka depan tanggal sebagai jutaan, susun sisanya, tetap coret "20" dari tahun. Hasilnya 2.306.024 — dua juta tiga ratus enam ribu dua puluh empat rupiah.
Intinya bukan rumus baku. Kamu bebas mengatur posisi angka selama hasilnya nyaman di kantong dan disetujui berdua. Yang penting angkanya nyangkut sama tanggal spesialmu, bukan diambil dari daftar nominal "angka cantik" generik. Banyak pasangan Sunda, misalnya, lebih suka pola yang mirip: nominal seperti Rp 2.025.000 sebagai tanda menikah di tahun 2025.
Harus Angka Ganjil, atau Bebas Saja?
Kamu mungkin pernah dengar bahwa jumlah atau nominal hantaran harus ganjil. Itu memang kepercayaan adat di banyak daerah — angka ganjil dianggap melambangkan kesendirian yang baru utuh setelah bersatu dengan pasangannya. Tapi mahar uang yang kamu susun dari tanggal akad nggak harus ikut aturan itu. Tanggalnya dapat angka apa, ya itulah nominalnya.
Kalau keluargamu memegang adat ganjil secara ketat, kamu tetap bisa menyesuaikan — cukup tambah atau kurangi satu rupiah saja supaya nominalnya jadi ganjil, tanpa kehilangan hubungannya dengan tanggal. Bagian ini sebaiknya kamu sepakati bareng keluarga, bukan diputus sendirian.
"Hiasannya Pakai Uang Palsu, Yang Asli Diserahkan Langsung di Akad"
Ini hal yang paling sering luput: di Indonesia, menghias atau menempelkan uang asli di bingkai mahar melanggar aturan dan bisa berujung sanksi pidana. Jadi yang dipajang di atas panggung atau diselipkan di bingkai seserahan adalah uang palsu — kertas atau logam tiruan — yang fungsinya cuma simbol. Uang aslinya diserahkan langsung kepada mempelai perempuan saat atau setelah akad selesai, dan sepenuhnya menjadi miliknya.
Sesuai Tanggal Itu Indah — Tapi Bukan Syarat
Menyesuaikan nominal mahar dengan tanggal pernikahan bukan kewajiban agama. Dalam Islam, mahar memang wajib diberikan, tapi bentuk dan nominalnya bebas — sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an (QS. An-Nisa: 4). Nabi Muhammad SAW bahkan mendorong kemudahan: "Sebaik-baik mahar adalah yang paling mudah (ringan)." Mengikuti angka tanggal cuma salah satu cara kreatif buat bikin nominal terasa personal. Asalkan nggak jadi beban sampai berhutang, pilihan ini sah dan manis.
Kalau kamu bingung patokan "wajar" itu berapa, ulama memang memberi panduan — tapi sebagai patokan, bukan batas keras. NU Online, misalnya, menyinggung rentang sunnah 10 sampai 500 dirham, yang dikonversi dari harga perak per Mei 2025 (sekitar Rp13.000 per gram) berkisar dari sekitar Rp386.750 sampai Rp19.337.500. Itu sekadar gambaran, bukan keharusan — bahkan mahar yang jauh lebih sederhana tetap sah selama disepakati dengan tulus. Kompilasi Hukum Islam (KHI) Pasal 31 juga menegaskan prinsip yang sama: kesederhanaan dan kemudahan, bukan angka tertentu.
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
Cara menghitung uang mahar dari tanggal pernikahan itu gimana?
Ambil angka tanggal, bulan, dan tahun akad, susun jadi satu deret, lalu pilih skala ratusan ribu atau jutaan. Contoh akad 23-06-2024 bisa jadi Rp 230.624 (ratusan ribu) atau Rp 2.306.024 (jutaan) — cukup coret "20" di depan tahun dan atur posisi angkanya. Tidak ada rumus baku; yang penting nyaman dan disepakati berdua.
Apakah mahar boleh berupa uang dalam Islam?
Boleh. Islam tidak menetapkan bentuk khusus untuk mahar — uang tunai, emas, seperangkat alat salat, bahkan benda sederhana seperti sandal jepit tetap sah selama disepakati. Mahar uang justru jadi pilihan paling umum di Indonesia karena praktis dan mudah diukur nilainya.
Berapa minimal nominal mahar uang pernikahan?
Tidak ada batas minimum baku dalam syariat. Ulama memberi panduan rentang sunnah sekitar 10–500 dirham, tapi itu bukan keharusan — bahkan nominal yang sangat sederhana tetap sah. Kompilasi Hukum Islam (KHI) Pasal 31 juga menekankan kesederhanaan dan kemudahan, bukan angka tertentu.
Apa bedanya mahar dan uang hantaran?
Mahar adalah kewajiban syariat dari calon suami kepada calon istri, diserahkan saat akad, dan menjadi hak penuh istri. Hantaran adalah tradisi adat — biasanya berupa perlengkapan rumah tangga atau tambahan uang — yang sifatnya tambahan, bukan kewajiban agama. Nominal yang kamu susun dari tanggal pernikahan biasanya masuk ke mahar.
Bolehkah menghias mahar pakai uang asli?
Tidak boleh. Di Indonesia, menempel atau menghias uang asli di bingkai mahar melanggar aturan dan bisa kena sanksi pidana. Gunakan uang palsu (kertas atau logam tiruan) untuk pajangan, dan serahkan uang aslinya langsung kepada mempelai perempuan saat atau setelah akad.
