Paes Solo Basahan: Hijau, Bukan Hitam — dan Tiap Lekukan Punya Doa Sendiri
Paes Itu Apa Sih, dan Kenapa Ada yang Berwarna Hijau?
Kamu pasti pernah lihat paes — hiasan dahi hitam khas pengantin Jawa yang melengkung simetris di atas alis. Tapi pernah nggak kamu sempat memperhatikan satu detail: ada paes yang warnanya hijau, bukan hitam? Dan kalau kamu tanya ke beberapa orang, jawabannya bisa berbeda-beda — ada yang bilang itu cuma variasi warna, ada yang bilang itu paes untuk gaya tertentu saja.
Wajar banget kalau bingung. Banyak calon pengantin yang baru mulai mengurus pernikahan adat Solo berhenti di pertanyaan ini, padahal perbedaan hitam-hijau itu bukan soal selera rias — ia menandai dua pakem yang berbeda. Paes hijau adalah ciri khas Solo Basahan, busana kebesaran Keraton Surakarta yang akhir 2025 lalu resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kementerian Kebudayaan.
Lukisan Pakai Pidih, Bukan Tempelan
Satu hal yang sering disalahpahami: paes itu dilukis, bukan ditempel atau distiker. Di pakem Solo, pengantin dirias dengan paes memakai bahan yang disebut pidih — pigmen yang digambar manual di dahi oleh perias adat. Inilah yang membedakannya dari paes Yogyakarta: paes Jogja memakai prada (serbuk emas) di tepinya, sedangkan paes Solo sama sekali tidak memakai prada dan murni mengandalkan pidih.
Artinya, setiap lekukan paes Solo adalah hasil tangan perias — bukan cetakan. Makanya prosesnya butuh waktu dan ketenangan, dan makanya pula detail kecilnya punya nama serta makna sendiri.
4 Lekukan Paes dan Doa yang Dibawanya
Paes Solo — baik yang hitam maupun yang hijau — terdiri dari empat bagian. Empat lekukan kecil ini bukan dekorasi sembarangan; masing-masing membawa doa spesifik untuk calon pengantin.
- Gajahan — bagian terbesar di paling depan dahi, tepat di tengah. Melambangkan trimurti, tiga kekuatan. Bentuknya yang paling besar menggambarkan harapan agar kehormatan dan derajat seorang perempuan ditinggikan saat ia menikah.
- Pengapit — dua lekukan di kanan-kiri gajahan, berperan "mengendalikan" gajahan. Maknanya: bagaimanapun banyak rintangan dalam rumah tangga, pengantin diharapkan tetap berjalan lurus pada tujuan mulianya mempertahankan pernikahan.
- Penitis — lekukan setelah pengapit, mengingatkan bahwa segala hal di rumah tangga perlu tujuan dan dijalankan secara efektif — termasuk soal yang sederhana seperti mengelola keuangan keluarga.
- Godheg — lekukan melengkung ke bawah di area pelipis, depan telinga. Melambangkan kebijaksanaan, sekaligus doa agar pengantin senantiasa introspeksi diri dan segera diberi keturunan.
Jadi ketika perias memasang paes di dahimu, sebetulnya ia sedang menuliskan empat lapis doa — bukan sekadar memperindah wajah.
Kenapa Paes Solo Basahan Berwarna Hijau?
Inilah pertanyaan yang paling sering muncul. Pada Solo Putri, pidih-nya hitam pekat — melambangkan keabadian. Tapi pada Solo Basahan, pidih-nya hijau, dan warna ini punya nama sendiri: gadhung melati (kadang disebut lotha), hijau dengan semburat putih di tengahnya.
Warna hijau itu menyimbolkan kesinambungan kehidupan dan keturunan — doa agar generasi terus berlanjut tanpa terputus. Masuk akal kalau Basahan, yang aslinya busana kebesaran keraton sejak masa Pakubuwono II dan baru diizinkan untuk masyarakat umum sejak 1980-an, memilih warna yang membawa doa tentang keberlanjutan hidup. Pakem ini memang dirancang sebagai gaya paling sakral dan paling padat makna di antara semua busana pengantin Solo.
Satu detail lain yang membuat Basahan berbeda: alis pengantin dirias membentuk menjangan meranggah — melengkung menyerupai tanduk rusa jantan. Bukan hanya paes-nya yang khas, ekspresi wajahnya pun diatur pakem.
Membulat, Bukan Meruncing — Bedanya dengan Paes Jogja
Kalau kamu pernah membandingkan foto pengantin Solo dan Yogyakarta, paesnya memang terlihat mirip dari kejauhan. Tapi dekat-dekat, bedanya jelas.
Bentuk paes Solo lebih membulat, ujungnya menyerupai ujung telur bebek. Paes Yogyakarta — terutama Paes Ageng — bagian gajahan dan penitisnya lebih lancip, menyerupai daun sirih. Lalu ada prada, semburat serbuk emas di tepi paes Jogja yang sama sekali tidak ada di Solo. Dan tentu saja: paes Basahan yang berwarna hijau tidak ditemukan di pakem Yogyakarta sama sekali.
Singkatnya: kalau lihat paes hijau, itu pasti Solo Basahan. Kalau lihat paes dengan semburat emas di tepinya, itu Jogja.
Berapa Lama dan Berapa Biaya Merias Paes Solo Basahan?
Karena paes dilukis manual dan Basahan adalah pakem paling lengkap, proses riasnya jauh lebih lama dibanding rias modern. Memasang paes saja sudah makan waktu cukup lama, belum termasuk menata sanggul bokor mengkurep, memasang cunduk mentul berjumlah ganjil, dan menyusun roncean melati tibo dodo dari kepala sampai pinggang. Banyak pasangan menjadwalkan rias sejak subuh kalau akad atau panggih dimulai pagi — detail kecil yang sering bikin acara molor di hari H kalau diabaikan.
Soal biaya, paket rias Solo Basahan di banyak sanggar biasanya berawal dari beberapa juta rupiah dan bisa mencapai belasan juta untuk paket lengkap dari perias ternama. Harga selalu bergantung pada nama perias, kelengkapan paket (rias, sanggul, aksesoris, hingga busana), dan lokasi acara. Angka pasti berubah dari tahun ke tahun, jadi saat survei vendor selalu minta pricelist terbaru — bukan mengandalkan harga yang kamu dengar dari teman atau lihat di internet bertahun lalu.
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
Apa beda paes Solo Putri dan Solo Basahan?
Paes Solo Putri berwarna hitam pekat dan dipasangkan bersama kebaya beludru panjang — biasanya dipakai untuk akad atau setelah panggih. Paes Solo Basahan berwarna hijau (gadhung melati), dipasangkan bersama dodot dengan bahu terbuka, dan dipakai untuk upacara panggih serta resepsi. Basahan juga lebih sakral dan lebih ketat pakemnya.
Kenapa paes Solo Basahan berwarna hijau?
Warna hijau, atau gadhung melati, melambangkan kesinambungan kehidupan dan keturunan. Berbeda dari paes hitam Solo Putri yang melambangkan keabadian, paes hijau Basahan membawa doa spesifik tentang generasi yang terus berkesinambungan tanpa terputus.
Apa makna gajahan, pengapit, penitis, dan godheg?
Gajahan (bagian terbesar di tengah dahi) melambangkan trimurti dan penghargaan terhadap kehormatan perempuan. Pengapit (kanan-kiri gajahan) mengingatkan pengantin tetap berjalan lurus di tengah rintangan. Penitis berarti segala sesuatu perlu tujuan dan dijalankan secara efektif. Godheg di pelipis melambangkan kebijaksanaan sekaligus doa agar segera diberi keturunan.
Berapa lama proses rias paes Solo Basahan?
Rias lengkap — termasuk melukis paes, menata sanggul, aksesoris, dan roncean melati — biasanya memakan waktu beberapa jam. Karena itu banyak pasangan menjadwalkan rias jauh lebih pagi dari akad atau resepsi supaya acara tidak molor di hari H.
Apa beda paes Solo dan paes Yogyakarta?
Paes Solo lebih membulat menyerupai ujung telur bebek dan dilukis murni dengan pidih tanpa prada. Paes Yogyakarta (Paes Ageng) bagian gajahan dan penitisnya lebih lancip menyerupai daun sirih, dan diberi prada (serbuk emas) di tepinya. Paes Solo Basahan yang berwarna hijau juga tidak ditemukan di pakem Yogyakarta.
