Datella

6 Busana Pengantin Adat Jawa Tengah: 2 Baku Keraton, 4 Gaya Lain

Nikah Adat Solo Tapi Bingung Mau Pakai Busana Yang Mana?

Kamu baru sadar pengantin adat Jawa Tengah itu bukan cuma satu gaya. Ada yang pakai kebaya, ada yang pakai dodot. Ada yang paes-nya hitam, ada yang hijau. Terus mana yang harus dipakai di akad, mana yang untuk panggih, mana yang untuk midodareni? Wajar banget kalau bingung — hampir semua calon pengantin yang baru mulai mengurus pernikahan adat Solo berhenti di pertanyaan ini.

Kerangka paling jitu buat memahami enam gaya ini: ada 2 pakem baku yang aslinya lahir di lingkungan Kasunanan Surakarta, dan 4 gaya lain yang berkembang di masyarakat untuk momen pendamping. Dua yang baku lagi populer belakangan, soalnya akhir 2025 lalu busana Dodotan Solo Basahan resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kementerian Kebudayaan — kabar yang bikin banyak pasangan kembali penasaran sama pakem pengantin Solo.

Berikut uraiannya, dari yang paling sering dipakai sampai yang paling khusus.

Solo Putri — Kebaya Beludru Hitam yang Anggun dan Serbaguna

Solo Putri adalah gaya yang asalnya ditujukan untuk akad nikah atau sesudah upacara panggih — gaya yang lebih sederhana dan melambangkan keramah-tamahan serta sopan santun masyarakat Jawa. Ciri khasnya: kebaya panjang berbahan bludru hitam, dipadu kain batik bermotif sidomukti (harapan kemuliaan), sidoasih (kasih sayang), atau sidoluhur (budi luhur). Pengantin prianya mengenakan jas sikepan atau beskap dengan keris terselip di pinggang.

Aksen yang paling gampang dikenali adalah paes — hiasan dahi berbentuk lengkungan simetris warna hitam pekat (disebut pidih). Setiap lekukan punya nama: gajahan di tengah, pengapit di kanan-kiri, penitis, dan godheg di area pelipis. Masing-masing membawa doa spesifik — agar pengantin bijaksana, setia, dan segera diberi keturunan.

Kesan keseluruhan: anggun, tertutup, formal. Bludru halus, kain batik yang dirawat khusus, dan tibo dodo (roncean melati panjang dari kepala sampai pinggang) membuat gaya ini cocok untuk akad di KUA maupun resepsi besar di gedung.

Solo Basahan — Kenapa Paesnya Berwarna Hijau?

Ini gaya yang baru saja diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2025. Solo Basahan adalah busana kebesaran Keraton Surakarta yang diciptakan pada masa Pakubuwono II — awalnya hanya boleh dipakai putri raja. Masyarakat umum baru diperbolehkan mengenakannya sejak 1980-an, setelah izin dari Pakubuwono XII. Belakangan gaya ini kembali naik daun setelah Kaesang Pangarep dan Erina Gudono memakainya saat ngunduh mantu di Loji Gandrung pada 2022.

Hal yang paling membedakan Basahan dari Solo Putri: pengantin wanita tidak memakai kebaya, melainkan dodot atau kampuh dengan bahu dan lengan terbuka seperti kemben. Bahannya kain batik bermotif alas-alasan (pohon dan binatang hutan) berwarna gadhung melati — hijau dengan blumbangan putih di tengah, melambangkan penghidupan dan kesuburan.

Dan paesnya berwarna hijau, bukan hitam. Ini detail yang paling sering bikin orang salah sangka — banyak yang mengira paes selalu hitam. Warna hijau (disebut lotha) menyimbolkan kesinambungan kehidupan dan keturunan. Nama "basahan" sendiri konon dari kata basah — merujuk ke bagian tubuh atas yang tidak tertutup pakaian.

Karena kompleksitasnya, Basahan dipakai untuk upacara panggih (pertemuan pengantin) dan wilujengan (resepsi). Inilah gaya yang paling "magnum opus" dari semua pakem Solo — sekaligus yang paling ketat aturannya.

Solo Kesatrian — Busana Pengantin Pria yang Gagah

Sering disebut sebagai pasangan Solo Putri. Untuk pengantin pria, Kesatrian hadir dalam bentuk beskap gelap, blangkon, keris ladrang di belakang sabuk, dan kain batik dengan jumlah wiru (lipatan depan) yang ganjil — biasanya 9, 11, atau 13. Kesan yang dibawa: gagah, berwibawa, siap menjadi kepala rumah tangga.

Ada juga versi pengantin wanita dari gaya Kesatrian — kebaya pendek berbahan kain lami bermotif bunga, dengan riasan wajah serupa Solo Putri (paes hitam). Versi ini lebih ringan dan biasanya dipilih untuk acara yang nggak sekhidmat resepsi utama.

Tiga Gaya Pendamping untuk Momen Lain

Tiga gaya berikut bukan "versi ringan" dari tiga di atas — mereka dipakai di momen yang berbeda dalam rangkaian panjang pernikahan adat Solo.

Sawitan untuk Midodareni

Sawitan dipakai pada malam midodareni, malam sebelum akad. Kebaya pendek berbahan kain citah bermotif daun atau bunga, dipadu jarik yang sewarna. Filosofinya: kemanunggalan rasa — kebaya dan jarik yang serasi menyimbolkan dua mempelai yang sudah ditakdirkan bersama. Riasannya paling sederhana dari enam gaya ini: paes-nya belum diwarnai, tanpa roncean melati, tanpa aksesoris berlebihan.

Langenharjan untuk Prosesi Tambahan

Gaya yang lebih personal, biasanya dipilih untuk prosesi kecil di luar akad dan panggih utama — misalnya acara keluarga inti. Kebaya pendek dari kain brokat, dengan riasan wajah sama seperti Solo Putri. Yang membedakan adalah kebaya brokatnya yang sedikit lebih kontemporer di tangan.

Takwo untuk Formal-Modern

Takwo biasanya dipakai untuk pengantin pria (pasangan dari Basahan), tapi ada juga versi pengantin wanitanya: kebaya panjang dengan bahan yang sama seperti busana Takwo pengantin pria, dirias dengan paes hijau seperti Basahan. Banyak pasangan yang memilih Takwo kalau ingin nuansa adat tapi sedikit lebih kontemporer dibanding Basahan penuh.

Gimana Kalau Keluarga Bukan dari Solo?

Boleh-boleh saja mengangkat adat Jawa Tengah meski asal keluargamu bukan Solo — banyak pasangan lintas daerah yang begini, dan ini sudah umum terjadi. Yang lebih penting daripada "asal keluarga" adalah konsultasi dengan perias adat yang kamu pilih, supaya pakem paes, sanggul, dan kelengkapan aksesorisnya tetap sesuai aturan. Perias adat Solo biasanya sangat terbuka soal penyesuaian — mereka justru ingin kamu paham kenapa setiap detail diatur, bukan asal dipakai.

Satu hal yang sering dilupakan calon pengantin: proses rias adat Solo butuh waktu jauh lebih lama dari rias modern. Memasang paes saja makan waktu cukup lama, belum termasuk menata sanggul bokor mengkurep, memasang cunduk mentul berjumlah ganjil, dan menyusun roncean melati tibo dodo dari kepala sampai pinggang. Jadwalkan rias sejak subuh kalau akad atau panggih dimulai pagi — ini detail kecil yang sering bikin acara telat di hari H.

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan

Apa beda Solo Putri dan Solo Basahan?

Solo Putri memakai kebaya beludru panjang dengan paes hitam, dipakai untuk akad atau setelah panggih. Solo Basahan memakai dodot dengan bahu terbuka (kemben) dan paes hijau, dipakai untuk upacara panggih dan resepsi (wilujengan). Basahan juga lebih rumit dan sakral — itu sebabnya baru diatur ketat pakemnya oleh keraton.

Kenapa paes Solo Basahan berwarna hijau?

Warna hijau (disebut gadhung melati atau lotha) menyimbolkan penghidupan dan kesinambungan keturunan. Berbeda dari paes hitam pekat Solo Putri yang melambangkan keabadian, paes hijau pada Basahan membawa doa spesifik tentang generasi yang terus berkesinambungan tanpa terputus.

Apakah pengantin dari luar Solo boleh memakai busana adat Jawa Tengah?

Boleh. Banyak pasangan lintas daerah memilih adat salah satu pihak sebagai busana utama. Yang penting berkonsultasi dengan perias adat supaya pakem paes, sanggul, dan kelengkapan aksesorisnya tetap sesuai.

Apakah busana pengantin Jawa Tengah sama dengan Yogyakarta?

Tidak. Solo dan Yogyakarta punya pakem berbeda. Paes Yogyakarta (Paes Ageng) lebih runcing dan beberapa ragamnya diberi prada (serbuk emas) di tepinya, sedangkan paes Solo lebih membulat dan tidak memakai prada sama sekali. Selain itu paes Solo Basahan menggunakan warna hijau, yang tidak ditemukan di pakem Yogyakarta.

Berapa lama proses rias pengantin adat Jawa Tengah?

Tergantung gayanya, tapi rias lengkap — termasuk paes, sanggul, aksesoris, dan roncean melati — biasanya butuh beberapa jam. Inilah alasan banyak pasangan menjadwalkan rias jauh lebih pagi dari resepsi atau akad modern, supaya acara tidak molor di hari H.