Datella

6 Tarian Adat Jawa Barat buat Resepsi: 2 Buat Sambut Tamu, 4 Buat Hiburan

Bingung Mau Pakai Tarian yang Mana Buat Resepsi Sunda?

Kamu sudah memutuskan mau angkat budaya Sunda di resepsi, terus macet di pertanyaan: tarian apa yang harus tampil dulu — yang sambut tamu, atau yang bikin orang joget? Ada yang bilang Tari Merak wajib karena sakral, ada yang bilang Jaipong lebih hidup. Wajar banget kalau bingung — hampir semua pasangan yang baru mulai menyusun acara adat Sunda berhenti di titik ini.

Cara paling gampang memilah enam tarian ini: 2 di antaranya berfungsi menyambut pengantin atau tamu agung, dan 4 berfungsi menghibur sepanjang resepsi. Sebagian besar sanggar adat di Priangan memang sudah membagi paketnya seperti ini. Berikut uraiannya, dari yang paling sering dipakai sampai yang paling spesifik.

Tari Merak — Sambutan Klasik Buat Pengantin Pria Masuk Pelaminan

Tari Merak adalah tarian yang paling sering kamu lihat di resepsi adat Sunda, dan ada alasannya. Diciptakan oleh Raden Tjetje Somantri pada 1955, tarian ini menggambarkan keindahan burung merak jantan saat memikat pasangan — gerakannya lincah, sombong, tapi anggun. Kostumnya didominasi warna-warna terang dengan aksesori sayap di punggung penari.

Di resepsi pernikahan, fungsinya spesifik: menyambut rombongan pengantin pria yang hendak berjalan menuju pelaminan. Banyak keluarga juga memakainya saat tamu agung datang. Kesan yang dibawa: penghormatan, sekaligus doa agar pernikahan dibarengi keindahan dan kesetiaan — dua hal yang juga dimaknakan dari tingkah laku burung merak mencari pasangan.

Kenapa Tari Mapag Panganten Bisa Dipakai di Akad dan Resepsi?

Kalau Merak menghibur dari kejauhan, Mapag Panganten menyambut langsung di pintu. Tarian ini dilakukan saat calon pengantin pria tiba di lokasi — penarinya menari di depan pintu masuk sebagai tanda penghormatan, sekaligus penolak bala. Yang membuatnya fleksibel: Mapag Panganten bisa kamu panggil di akad nikah maupun di resepsi sore harinya.

Di akad, fungsinya menyambut calon mempelai pria yang baru tiba dari rumah. Di resepsi, ia menyambut pasangan pengantin saat memasuki area pelaminan. Banyak keluarga memilih tarian ini karena durasinya pendek (sekitar 5–10 menit) dan nggak butuh formasi besar — cocok kalau halaman atau gedung resepsimu nggak terlalu luas.

'Hiburannya Hidup, Tamunya Ikut Goyang'

Itulah yang sering didengar soal Jaipong. Lahir di Karawang pada akhir 1970-an dari tangan Gugum Gumbira, Jaipong menggabungkan ketukan gamelan yang cepat dengan gerak pinggul dan kaki yang dinamis. Kostumnya cerah, berkilau, dengan sanggul besar khas penari Jaipong. Beda dari Merak atau Mapag Panganten yang berfungsi sakral di awal acara, Jaipong dipentaskan di tengah resepsi sebagai hiburan murni — tamu yang tadinya duduk sopan sering ikut bergoyang.

Tapi ingat, di sebagian keluarga yang memegang pakem ketat, Jaipong dianggap terlalu rame untuk akad. Paling aman: panggil Jaipong untuk sesi makan tamu atau menjelang penutup, bukan saat prosesi sakral berlangsung.

Tari Ketuk Tilu — Akar Jaipong yang Masih Dipakai di Pesta Perkawinan

Sebelum Jaipong ada, ada Ketuk Tilu. Kesenian rakyat dari Karawang dan Priangan ini diiringi gamelan sederhana dengan satu ronggeng perempuan di tengah, lalu para pria (disebut layan) menari bergiliran bersamanya. Dulu Ketuk Tilu adalah tarian pergaulan yang dipentaskan pada pesta perkawinan, pesta panen, dan khitanan — fungsinya murni hiburan dan rasa syukur atas hasil bumi.

Sebagian sanggar masih menyewakan Ketuk Tilu versi panggung yang lebih tertata untuk resepsi modern — bagian ronggeng-nya dipadukan dengan gerak yang lebih koreografis. Buat kamu yang ingin nuansa akar budaya yang lebih dalam dari Jaipong, Ketuk Tilu adalah pilihan yang sering terlewat tapi punya nilai sejarah yang justru lebih tua.

Sisingaan — Arak-Arakan Singa dari Subang yang Kini Hadir di Pernikahan

Sisingaan bukan tarian tunggal — ia arak-arakan boneka singa dari tandu, diangkat empat orang, diiringi waditra (gamelan khas Subang) dengan tempo yang bertenaga. Aslinya kesenian ini lahir di Kabupaten Subang pada akhir abad ke-19 sebagai hiburan sekaligus ekspresi kritik rakyat terhadap penjajah Belanda. Selama puluhan tahun, Sisingaan identik dengan pesta khitanan.

Belakangan Sisingaan mulai sering diundang ke pernikahan, biasanya untuk mengarak pengantin pria dari gerbang sampai ke pelaminan. Kesan yang dibawa: meriah, gagah, dan beda dari tarian konvensional. Kalau kamu punya halaman resepsi yang lumayan luas, Sisingaan punya ruang untuk unjuk gerak — di area sempit ia justru sulit dipentaskan karena butuh empat pengangkat dan formasi arak-arakan.

Wayang Golek — Hiburan Tontonan yang Mengisi Sepanjang Sore-Malam

Berbeda dari lima di atas yang berupa tarian, Wayang Golek adalah pertunjukan boneka kayu yang dimainkan seorang dalang, diiringi gamelan Sunda, dan menceritakan epos Mahabharata atau Ramayana. Karakter seperti Si Cepot sering jadi favorit karena lawakannya yang khas. Di resepsi pernikahan, Wayang Golek biasanya dipentaskan pasca-akad sampai menjelang resepsi sore — fungsinya mengisi waktu sambil menghibur tamu yang sudah datang lebih awal.

Tantangannya: Wayang Golek butuh durasi (minimal 2–3 jam) dan suara dalang akan terdengar di seluruh area. Kalau resepsimu pendek atau di gedung tertutup dengan banyak sesi MC, Wayang Golek bisa jadi nggak kebagian tempat. Tapi kalau ada celah waktu yang panjang antara akad dan resepsi, pertunjukan ini justru menghidupkan suasana dengan cara yang berbeda dari tarian — lewat suara, lelucon, dan ritme gamelan yang kontinu.

Gimana dengan Biaya dan Waktu? Ini yang Perlu Dipikir

Sewa satu paket tarian adat Sunda di sanggar Priangan biasanya berkisar Rp 5–10 juta per penampilan, tergantung jumlah penari, durasi, dan apakah paket sudah termasuk gamelan. Beberapa sanggar juga menawarkan paket lengkap — upacara adat lengser + tarian + MC — mulai Rp 5 juta untuk yang termurah, sampai Rp 15 juta ke atas untuk paket yang lebih kompleks.

Hal praktis yang sering luput: setiap tarian butuh waktu tata panggung dan soundcheck 30–60 menit sebelum tampil. Kalau kamu memesan tiga tarian berurutan (misalnya Merak → Mapag Panganten → Jaipong), pastikan logistiknya benar — terutama pergantian kostum dan formasi penari. Banyak pasangan lupa memperhitungkan jeda ini, dan akhirnya acara jadi molor di hari H.

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan

Tarian apa yang paling sering ditampilkan di resepsi pernikahan adat Sunda?

Tari Merak. Tarian ini paling sering dipakai sebagai tarian penyambutan tamu agung atau rombongan pengantin pria menuju pelaminan, karena gerakannya yang anggun dan makna kesetiaan yang dibawanya.

Apa beda Tari Merak dan Tari Jaipong?

Tari Merak adalah tarian klasik yang diciptakan R. Tjetje Somantri pada 1955, gerakannya menggambarkan burung merak dan berfungsi sebagai penyambutan sakral. Tari Jaipong lahir di Karawang pada akhir 1970-an, gerakannya lebih dinamis dan berfungsi sebagai hiburan di tengah resepsi.

Berapa biaya sewa tarian adat Sunda untuk pernikahan?

Sewa satu paket tarian biasanya berkisar Rp 5–10 juta per penampilan, tergantung jumlah penari, durasi, dan apakah sudah termasuk gamelan. Kalau kamu ambil paket lengkap (tarian + upacara adat lengser + MC), harganya mulai Rp 5 juta untuk yang sederhana sampai Rp 15 juta ke atas.

Kapan Tari Mapag Panganten sebaiknya dilakukan — di akad atau di resepsi?

Bisa dua-duanya. Di akad, Mapag Panganten dilakukan saat calon pengantin pria tiba di lokasi akad. Di resepsi, ia menyambut pasangan pengantin masuk pelaminan. Sebagian keluarga memilih untuk salah satu momen saja, sebagian memanggilnya di kedua acara.

Apakah Sisingaan boleh dipakai di pernikahan, bukan khitanan?

Boleh. Walaupun Sisingaan aslinya kesenian untuk pesta khitanan di Subang, belakangan banyak pasangan yang mengundangnya ke pernikahan untuk mengarak pengantin pria. Sebagai bentuk pelestarian budaya, ini justru didorong oleh komunitas seni Subang sendiri.